December 6, 2020

6 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mengikuti Talaqqi


Oleh: Salamuddin (Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Jurusan Syariah)

 Tulisan ini sebagai nasehat bagi pribadi dan sesiapa yang membaca ini) jangan lupa shalawat sebelum baca ya, biar berkah. (Allohumma solli ala Sayyidina Muhammad

Ada fenomena dimana sebagian besar para santri atau mahasiswa yang telah menghabiskan waktunya dalam mendalami agama, namun tidak menghasilkan apa2, Ini bisa dilihat secara kasat mata, seperti yang kita lihat di salah satu universitas yang bersandar internasional dan memiliki ratusan ribu mahasiswa, namun setelah 20 tahun berlalu,, berapa ulama yang terlahir dari universitas ini…??? Tidak lebih dari hitungan jari..

Ini tak lain buruknya sistem pembelajaran yang ada., karena ilmu adalah ibadah syariah, maka harus ada dua syarat ibadah tersebut, yaitu:
1. Ikhlas
2. Mutabaah(mengikuti) metode para ulamaulama, bukan mengikuti Rasulullah, karena para ulama mengambil manhaj talaqi (Metode kajian) dari Rasulullah. Harus ada guru yang bersambung sampai Rasulullah.

Orang pertama membahas manhaj talaqi ini adalah Imam Abdul Qodir Ibnu Badron Al Hanbali, dalam kitabnya Al Madkhol dan metode yang diajarkan oleh ulama besar ini adalah:

1)) Pelajar pemula harus memulai belajar dari kitab yang ringan.

Seorang pelajar mubtadi’ (permula) seharusnya memulai dari kitab2 mukhtashor (kitab kecil) “dan bagi seorang guru juga dalam kondisi seperti ini tak lepas hanya menyampaikan hukum2 yang ada, dan juga fakkul ibaroh(bagaimana cara membaca kitab yang ada), karna para ulama terbiasa terdidik dari ilmi yang sedikit sebelum menjadi ulama besar,

Ketika dalam mutola’ah, seharusnya jangan lewat dari satu baris sebelum benar-benar faham, ketika mendapati kalimat yang kurang jelas, jangan sampai mengatakan “saya akan membaca ini dilain waktu, trus lanjut, dan mendapati kembali kalimat yang tak jelas dan mengatakan ” saya akan membaca nya dilain waktu “,, ini akan menyebabkan hilangnya pemahaman yang sempurna thd pemahaman kitab..

Karna ketika kita membaca kitab mukhtashor secara sempurna, kitab yg lebih besar dari itu tak kan terasa sulit, karna tambahan maklumat nya tak sampai 2 x lipat dg yg sebelumnya,, karna kita sudah memahami dari awal secara bagus,,

Kalau seandainya seseorang membaca kitab matan abi syuja’ (fiqih syafi’i) kemudian kitab umdatus salik, maka tambahan maklumat nya akan terasa lebih menyenangkan,, karna pondasi sebelumnya sudah kokoh…

Ini pernah terjadi pada seorang ulama “Muhammad Ibnu Badron yang menuntut ilmu selama 5 tahun, telah menyelesaikan ilmu2 agama islam,, baik (bahasa Arab, mantiq, balagoh fiqh dlll) dan menjadi ulama besar mazhab hanbali dimasanya.. (di Universitas Zaituniyah,, Tunisia)

Kita juga harus pandai memilih syekh yg melahirkan seorang alim, bukan seorang yang berwawasan,

2)) mengetahui manhaj murojaah yang baik

Setelah kita mengetahui dari kitab mana kita melangkah, seorang yg ingin menjadi alim(ulama) juga harus mengetahui manhaj murojaah kitab yang baik,, sebagai berikut:

A. Sebelum ke majelis, kita harus membaca apa yang akan dibaca oleh sang guru, membacanya dan berusaha memahami apa yang termaktub dalam kitab, pastinya ada yg dipahami, ada yg tidak, maka kita tandai apa yang belum dipahami,
B. Ketika sang guru mulai mendekat dg masalah yang kita tandai, kita sudah benar-benar siap dan terbangun menerima permasalahan yg masih terkunci, disini lah waktu dimana datang futuh(pemahaman) dari Allah melalui sang guru,
C. Sepulang dari kajian, baca kembali apa yang sudah dipelajari dg guru, dan berusaha mamahami daqoiq(rahasia) permasalahan yang termaktub

Kesimpulan nya seorang pelajar ilmu agama itu harus:
– persiapan sebelum dars
– hadir majelis dg penuh perhatian
– murojaah (mengulang) dirumah

Dalam murojaah dirumah, jikalau perlu sikat pergi ke kitab Mutowwalat (kitab2 besar) sebagai samudera luas kita dalam memahami satu cabang keilmuan,

3. Berusaha untuk menjelaskan apa yang telah dipahami.

Cara ini bisa dipraktekkan kepada kawan sebaya, kalau tak ada, boleh dijelaskan kepada istri (cie-Cie yang belajar bareng istri.. Wkwk) agar maklumat lebih tahan lama….kalau tak ada juga(masih jomblo) (kasian jomblo.. Hehe) maka jelaskan permasalahan pada dinding (anggap dia kawan atau istri.. Hehe)

4. Setelah dijelaskan,maka silakan tulis apa yang dipahami melalui bahasa sendiri, atau juga membuat denah atau pohon akar terhadap ilmu yg ada(seperti syarat2, Macam2, rukun2 dll)

5. Minta penilaian kawan2 atau guru, terhadap tulisan kita sebagai penguatan

Setelah melakukan 5 poin diatas, insya Allah kita akan mendapatkan ilmu yang matang dan tidak butuh lagi untuk mengulang kitab itu karna kita telah mendapatkan pemahaman yang kuat, baik itu terhadap mazhab (misalnya), atau muamalah terhadap turots secara khusus.

Tulisan ini nasehat dari Maulana Syekh Mustofa Abdun Nabi di salah satu majelis fiqih beliau(ulama muda yg luar biasa)

%d bloggers like this: