December 6, 2020

3 Keutamaan Akal Manusia Didalam Islam

Abu Ja’far Al-Minangkabawy (Mahasiswa S1 Al-Azhar Kairo, Jurusan Syariah)

Mungkin pembaca pernah bertanya-tanya, “Sejauh mana sih keutamaan akal di dalam kehidupan seorang muslim sampai harus diulang sedemikian sering di dalam Al-Qur’an?”

”Ya benar, kata akal dan turunannya saja diulang sampai 49 kali di dalam Al-Qur’an, belum lagi kata-kata lain yang menunjukkan makna yang relatif sama seperti “tadzakkar”, “tubshir”, dan lainnya.

Pastilah hal ini menunjukkan urgensi dari kata tersebut dan orang-orang yang bersifat dengannya, karena di dalam kaidah tafsir kita mengetahui bahwa pengulangan ayat selain memberikan makna tambahan juga berfungsi utuk penekanan, yaitu menunjukkan ahammiyah atau pentingnya hal tersebut.

Inilah 3 kedudukan akal di dalam kehidupan seorang manusia yang penulis rangkum dari berbagai pendapat ulama:

1. Akal adalah nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah ﷻ kepada seorang hamba setelah Islam dan Iman.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Hatim Al-Busti –rahimahullah- bahwasanya Imam Abdullah bin Al-Mubarrak -rahimahullah- pernah ditanya,
“Apa hal terbaik yang dikaruniakan kepada seorang hamba?”,
Beliau menjawab, “Akal yang kuat”,
“Kalau tidak ada?”
Beliau menjawab, “Adab yang mulia”,
“Kalau tidak ada?”
Beliau menjawab, “Saudara shaleh yang mengajaknya bertukar pikiran”,
“Kalau tidak ada?”
Beliau menjawab, “Diam yang panjang”,
“kalau tidak bisa?”
Beliau lantas menjawab, “Kematian yang mendatanginya dengan segera”

Di dalam jawabannya tersebut, Imam Ibnul Mubarak menjelaskan bahwasanya bagi orang yang tidak memiliki akal yang sehat dan kuat atau adab yang mulia atau saudara yang shaleh atau kemampuan untuk diam panjang, maka kematian adalah lebih baik baginya dari pada menghabiskan hidup di dalam kebodohan tanpa memberikan manfaat apapun kepada agama dan lingkungan, malah hanya akan menjadi beban di tengah-tengah masyarakat.

Imam ‘Atha’ bin Abi Rabah –rahimahullah- juga pernah ditanya tentang hal yang sama, lalu beliau menjawab, “Akal yang datang dari Allah”.

2. Akal adalah pintu ilmu dan kemuliaan

Dengan akal, segala sesuatu yang merupakan bukti kebesaran Allah dapat dipahami oleh manusia. Hilangnya akal adalah salah satu musibah terbesar yang menimpa seorang manusia. Seseorang dapat memahami ilmu karena sehat akalnya. Seseorang menjadi jahil karena ada masalah pada akalnya. Tanpa akal seorang individu dibaratkan “mayat berjalan” kerangka dibalut daging tanpa member manfaat apapun, bahkan hanya akan menyebarkan “bau busuk” di tengah-tengah masyarakat.

Akal merupakan pintu kemuliaan pada diri seorang manusia. Jika pintu ini terkunci bagaimana kemuliaan tersebut bisa masuk kedalam dirinya. Seorang bijak berkata:

إن المكارم أبواب مصنفة ** فالعقل أولها والصمت ثانيها…
Sesungguhnya kemuliaan bermacam pintunya**
Akal yang pertama dan diam yang kedua…

Akal adalah wibawanya seorang muslim di dunia. Seseorang yang tidak berakal tidak akan bertambah kekuatannya dengan adanya kekuasaan dan tidak akan terangkat derajatnya dengan banyaknya harta. Seorang penyair berkata;

فإن لم يكن عقل تبين نقصه ** ولو كان ذا مال كثيرا عطاءه
Kalau bukan karena akal jelaslah kekurangannya **
Walaupun punya harta dan banyak pemberiannya

Ujung dari ilmu dan kemuliaan adalah kesempurnaan agama seorang muslim. Agamanya akan sempurna jika akalnya sempurna karena agama hanya diagungkan oleh orang-orang berakal. Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- berkata, “Tidaklah sempurna agama seseorang hingga sempurna akalnya”.

3. Akal adalah tolak ukur harga diri bagi seorang muslim.

Orang berakal menghargai orang lain berdasarkan akalnya, bukan semata penampilan dan raut wajah. Orang yang sempurna akalnya walaupun perawakannya kurang menarik, maka kesempurnaan akalnya akan menutupi kekurangan pada tubuhnya. Dan orang yang memiliki wajah yang menarik sedangkan akalnya bermasalah, maka kekurangan pada akalnya akan melenyapkan ketampanan pada wajahnya. Oleh karena itu tidak terlalu berlebihan perkataan seorang hakim, “Salah satu bencana terbesar yang menimpa seorang manusia adalah kehilangan akal”.

Imam Abu Hatim Al-Busthi berkata, “Seburuk-buruknya penyakit menahun adalah kebodohan, dan seburuk-buruknya kemiskinan adalah tidak mempunyai akal”.

Demikianlah 3 poin tentang pentingnya akal di dalam kehidupan seorang muslim. Pertanyaannya sekarang adalah apa itu akal dan kapan seseorang dapat dikatakan berakal, kurang akal, atau tidak berakal sama sekali? Kami akan membahasnya pada kesempatan berikutnya –inshaAllah-.

Kairo, 17 Jumad 2 1441 H

%d bloggers like this: