December 6, 2020

Definisi “Orang Berakal” Dalam Kacamata Islam

Oleh: Abu Ja’far Al-Minangkabawy (Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar)

            Ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang pentingnya akal di dalam kehidupan seorang muslim. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang  diutarakan pada penghujung tulisan saya tersebut, yakni; apakah kita termasuk orang berakal, atau orang kurang akal, atau orang yang tidak berakal sama sekali?

            Sebelumnya, kami mengajak Anda untuk meninjau defenisi akal terlebih dahulu, karena defenisi cabang selalu berangkat dari defenisi asalnya, dan kata “berakal” adalah cabang dari suku kata “akal” yang diberi imbuhan “ber” untuk menunjukkan sifat. Akal secara garis besar adalah pengetahuan akan baik dan buruknya suatu hal, kesempurnaan dan kekuranganya, serta pengetahuan akan yang terbaik di atara dua kebaikan dan yang terburuk di antara dua keburukan. [Taajul Arus (30/18)].

            Dari defenisi di atas, maka dapat kita katakan bahwa orang berakal adalah orang yang memahami perkara-perkara yang ada di dalam kehidupannya sehingga ia dapat memilah antara yang baik dan yang batil, yang bermanfaat dan yang mudharat, serta mengetahui yang terbaik di antara duakebaikan dan yang terburuk di antara dua keburukan. Orang berakal juga diartikan sebagai orang yang memiliki “alat” berupa akal atau kemampuan berpikir untuk memahami sesuatu berdasarkan kapasitas akal yang dimilikinya.

Kemampuannya dalam menyerap dan memahami sesuatu tersebut berbanding lurus dengan kadar akal yang ada pada dirinya. Itu secara umum berdasarkan defenisi harfiah yang kita kutip sebelumnya, lalu siapakah ia orang berakal tersebut dari kaca mata  para pemiliki “bashirah” dari kalangan ulama Islam? Mari kita sama-sama menyimak perkataan mereka!

            Menurut Khalifah Umar bin Khattab –radiallahuanhu-orang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan, melainkan orang yang mengetahui yang lebih ringan di antara dua keburukan.[Mausu’atul Akhlaq hal.13].

Imam Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- menambahkan syarat agar seseorang dapat dikatakan berakal dengan posisinya dalam menyikapi kebaikan dan keburukan yang telah diketahuinya sebelumnya. Ia berkata, “Orang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi ia adalah orang yang apabila mengetahui kebaikan maka ia mengikutinya, dan apabila mengetahui keburukan maka ia menjauhinya”.[Hilyatul Auliya’ (8/339)].

            Imam Wakii’ –rahimahullah- mengaitkan akal seseorang dengan urusan spritualnya. Ia berkata, “Orang berakal adalah orang yang memahami urusan-urusannya yang berkaitan dengan Allah, bukan orang yang hanya memahami urusan dunianya saja”. [Hilyatul Auliya’ (8/370)]. Dari sudut pandang beliau, orang yang memahami urusan dunianya dengan baik akan tetapi tidak paham masalah agama bukanlah orang yang berakal. Di dalam riwayat lain dikatakan bahwasanya orang yang berakal adalah orang yang memahami perintah dan larangan Allahﷻ.

            Imam Syafi’i –rahimahullah- mendefenisikan orang berakal dengan pendekatan yang sama dengan defenisi Amirul Mu’minin Umar –radhiallahuanhu- sebelumnya. Beliau berkata, “Orang berakal bukanlah orang yang dihadapkan kepadanya kebaikan dan keburukan kemudian ia memilih kebaikan, akan tetapi ia adalah orang yang apabila dihadapkan kepadanya dua keburukan maka ia mampu memilih keburukan yang paling ringan.[Hilyatul Auliya’ (9/139)].

            Sedangkan Imam Ibnu Hazm –rahimahullah- mengaitkan akal dengan kemampuan melihat aib diri sendiri dan mengalahkannya. Beliau berkata, “Orang berakal adalah orang yang mengetahui aib dirinya dengan baik kemudian mengalahkannya dengan berjalan di atas pengendaliannya akan aib tersebut. Sedangkan orang bodoh adalah orang yang tidak mengetahui aib dirinya sendiri, boleh jadi karena sedikitnya ilmu dan pemahamannya, lemahnya daya pikir, atau karena ia menganggap aibnya tersebut adalah bagian dari tabiat dirinya, dan ini adalah seburuk-buruknya aib di muka bumi”. [Al-Akhlaq wa As-Siyar hal.66].

            Sekarang mari kita jawab pertanyaan sebelumnya, “Apakah saya adalah orang berakal atau tidak?”

Untuk mengetahuinya jawablah beberapa pertanyaan berikut;

Apakah saya dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan serta memilih kebaikan untuk diikuti? [ya- terkadang- tidak]

Apakah saya dapat membedakan antara dua kebaikan dan mengambil yang terbaik, serta membedakan antara dua keburukan dan mengambil yang paling ringan jika tidak ada pilihan lain? [ya- terkadang- tidak]

Apakah saya mengetahui hak-hak Allah ﷻ akan diri saya dengan baik serta berusaha untuk memenuhinya sebisa mungkin? [ya- terkadang- tidak]

Apakah saya mengetahui aib diri saya dengan baik dan berusaha mengalahkannya dengan pengendalian yang saya lakukan atasnya? [ya- terkadang- tidak]

Apakah saya selalu memikirkan untuk melakukan yang terbaik dalam setiap kebaikan? [ya- terkadang- tidak]

Jika jawaban Anda semuanya adalah “ya”, maka selamat! Anda adalah orang yang memiliki akal yang sempurna. Berdo’alah agar Allah ﷻ senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada Anda.

Jika jawaban Anda adalah gabungan antara “ya” dan “terkadang”, maka Anda memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki.

Jika jawaban Anda semuanya adalah “terkadang”, maka Anda adalah orang kurang akal.

Jika jawaban Anda adalah gabungan antara “terkadang” dan “tidak”, maka Anda sedang menempuh jalan yang sulit. Berdo’alah kepada Allah ﷻ agar diberikan petunjuk.

Dan jika jawaban Anda semuanya adalah “tidak”, maka Anda adalah orang yang tidak berakal samasekali. Jika tidak segera berbenah, cepat atau lambat Anda akan terjatuh kepada kehancuran.

Kairo, 21 jumad 2 1441 H

Editor: Tareq Albana

%d bloggers like this: