December 6, 2020

Shalat Berjamaah Tapi Tidak Khusyu’ atau Shalat Sendirian Dengan Khusyu’, Mana yang Lebih Baik?

Oleh: Afriul Zikri (Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo)

Imam Tajuddin as-Subki (w. 771 H) di dalam Thabaqat as-Syafiiah al-Kubranya ketika memaparkan biografi Imam al-Ghazali (w. 505 H) beliau merinci ada beberapa hal pendapat beliau yang menyelisihi jumhur (ومن غرائب المسائل عن حجة الإسلام) diantaranya adalah perihal judul diatas ; salat jamaah tidak khusyuk dan salat sendirian khusyuk.

Beliau jelaskan pendapat sang Imam tentang permasalahan ini adalah bahwa salat sendirian ketika itu lebih utama dan lebih ashoh (أولى وأصح). Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ليس للعبد من صلاته إلا ما عقل منها، وإن المصلي قد يصلي الصلاة فلا يكتب له منها سدسها ولا عشرها

“Yang dicatat dari salat seseorang hanyalah pada bagian ketika dia khusyuk. Banyak yang salat (namun tidak khusyuk / menghadirkan hati) maka dia tidak mendapatkan seperenam dan sepersepuluh dari salatnya”

Beliau melanjutkan kesimpulan dari pendapat imam Ghazali. Kira-kira begini : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan salat berjamaah dibandingkan salat sendiri, dengan tingkatan keutamaan 27 derajat. Maksudnya adalah seandainya seseorang mampu khusyuk sekejap (لحظة) dalam salat jamaah maka sama halnya kalau dia khusyuk pada 27 saat (لحظة) ketika salat sendirian.

Nah, SEANDAINYA persentase kekhusyukan ketika berjamaah dibandingkan salat sendirian lebih sedikit dari persentase 1 hingga 27 derajat, maka dalam hal ini salat sendirian lebih utama. Namun sebaliknya kalau lebih dari persentase 1 hingga 27 maka jamaah lebih utama.

Imam Tajuddin as-Subki menyebutkan ternyata Syekh ‘Izzuddin bin ‘Abdussalam (w. 660 H) juga memakai metode dan cara (مسلك) imam Ghazali ini, hingga beliau berfatwa bahwa salat sendirian lebih utama seandainya kalau berjamaah akan membuat kita riya (pamer).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا فِي عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.”

Imam Tajuddin as-Subki berhipotesis, beliau mengungkapkan seandainya di hadapkan kepada kedua Imam besar ini (Imam Ghazali dan Imam ‘Izzuddin) perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas maka keduanya akan menjawab bahwa pada masa salaf tidak ada kejadian seperti ini ; bahwa jama’ah akan membuat seseorang tidak khusyuk dan kehilangan konsentrasi. Berbeda dengan perihal yang ditanyakan, maka permasalahan yang kita sebut ini tidak pernah terjadi pada masa salaf.

Setelah menyimpulkan pendapat kedua Imam tadi, Imam Tajuddin as-Subki menyampaikan statement bantahan beliau : “Yang jelas menghadiri jamaah lebih afdol secara mutlak! Keberkahan jama’ah akan menjadi penambal hilangnya kekhusyukan yang terjadi pada si penanya. Zaman yang disebutkan oleh Imam Gazali rahimahullahu dengan alasan muwazanah (keseimbangan antara jamaah dan kekhusyukan) begitu jauh jika dihubungkan dengan salat jamaah. Sehingganya, menyibukkan diri berjamaah lebih baik baginya ketimbang menghitung-hitung dan berpatokan kepada muwazanah ini. Bahkan kalau hanya sekedar ragu apakah dia akan khusyuk ketika berjamaah atau salat sendiri maka ini adalah salah satu bagian dari khusyuk itu sendiri. Bagaimanapun halnya jamaah tetap utama”.

Beliau melanjutkan kritikan beliau terhadap alasan imam Gazali, bahwa permasalahan yang disebutkan oleh sang imam tidak bisa diterima, seandainya memang ada maka sangat jarang kita temui, mungkin satu atau sedikit sekali dari sekian orang. Andai katapun ada seseorang yang meninggalkan jamaah dengan alasan hal tersebut. Maka hal ini tidak bisa jadi alasan untuk meninggalkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana sebagian ulama mewajibakannya, bahkan ada juga ulama yang menjadikannya syarat sah salat. Karena itu jangan sesekali kita buka celah untuk iblis untuk menjauhkan kita dari sunah nabi. Sampai-sampai beliau mengungkapkan :

البركة كل البركة في الإتباع ومجاهدة النفس على الخشوع فإن يأت فبها ونعمت وإلا فترك الخشوع لمتابعة السنة خشوع خير من الخشوع الحاصل مع الإنفراد فتأمل ذلك فهو حسن دقيق.

“Seluruh keberkahan itu terdapat ketika mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mujahadah diri untuk khusyuk. Seandainya mampu khusyuk dalam jamaah maka ini paling baik. Namun kalau belum mampu, maka tidak khusyuk karena mengikuti sunah adalah sebuah kekhusyukan, ini lebih baik ketimbang khusyuk yang di dapatkan ketika salat sendirian. Renungkanlah hal ini, maknanya begitu dalam”.

Imam Tajuddin as-Subki menyimpulkan dengan beberapa kalimat perihal pendapat beliau di atas :

وحاصله أن السنة وإن وقعت ناقصة وهي الجماعة بلا خشوع خير من لا سنة بالكلية وإن وقع فيها سنة أخرى وهي الخشوع.

“Kesimpulan : Bahwa sunah nabi yaitu jamaah, sekalipun ada kekurangan yaitu khusyuk, adalah lebih baik ketimbang meninggalkannya sama sekali. Sekalipun ada sunah lain disana yaitu khusyuk.

Bahkan diakhir-akhir statement, beliau mengingkari kebiasaan beberapa pecinta khalwat yang suka meninggalkan salat jama’ah. Seandainya mereka melaksanakan salat jamaah satu jam maka ini lebih baik daripada seribu jam namun meninggalkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tegas beliau.

رحم الله حجة الإسلام الإمام الغزالي والإمام سلطان العلماء عز الدين بن عبد السلام والإمام تاج الدين السبكي.
——-

اللهم إني أعوذ بك من قلب لا يخشع

Editor; Tareq Albana

%d bloggers like this: