December 6, 2020

PERHATIKAN SIAPA TEMANMU! (Bag.1)

Oleh; Abu Ja’far Al-Minagkabawy

Adakah salah seorang dari kita yang sewaktu kecilnya tidak diajarkan untuk tidak memilih–milih teman bergaul? Kami rasa tidak, atau mungkin hanya sebagian kecil yang tidak pernah mendapat pengajaran seperti itu. Ya, hampir setiap anak di Indonesia pernah mendapatkan pelajaran seperti itu terutama yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri karena ada salah satu mata pelajaran wajib yang memuat tentang masalah pergaulan dan salah satu yang diajarkan di dalamnya adalah untuk tidak memilih–milih teman. Setidaknya itulah yang kami dapatkan sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar dulu.

Anjuran untuk tidak memilih–milih teman setidaknya memiliki dua sisi pemahaman yang perlu diketahui. Sisi pertama adalah pemahaman secara mutlak dan menyeluruh. Pemahaman seperti inilah yang kebanyakan orang menangkapnya untuk pertama kalinya setelah mendengan anjuran tersebut karena memang secara literal mengarah kepada hal demikian. Jika ada seorang anak atau siswa yang diajarkan oleh gurunya agar tidak memilih–milih teman maka ia akan berusaha untuk bergaul dengan sebahagian besar bahkan seluruh siswa sekolah tersebut jika memungkinkan. Apabila ia berhasil untuk dekat dengan semua orang maka ia merasa bangga karena berhasil menjalankan dengan baik apa yang telah diajarkan kepadanya. Pemahaman seperti ini cenderung keliru dan berbahaya jika terus berkembang di dalam diri anak–anak maupun para remaja.

Sisi kedua dari pemahaman tersebut adalah pemahaman secara khusus setelah melakukan pengkajian sehingga didapatkan darinya penafsiran yang sesuai dari pengajaran untuk tidak memilih–milih teman tersebut. Hal ini menuntut pemahaman terhadap nilai-nilai yang berkaitan dengan pergaulan itu sendiri. Seseorang yang memiliki pemahaman yang baik terhadap masalah pergaulan maka ia akan menempatkan pengajaran tersebut di dalam ruang yang lebih khusus dari keumuman makna yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu bisa dikatakan kalau hal ini merupakan sesuatu yang sulit bagi anak–anak maupun para remaja.
Memilih teman adalah suatu keharusan bagi setiap muslim karena merupakan perintah agama. Disamping itu seseorang akan cenderung mengikuti teman bergaulnya karena dalam setiap pergaulan, secara sadar atau tidak, proses saling mempengaruhi pasti terjadi. Bagi yang memiliki karakter kuat maka ia akan lebih banyak mempengaruhi teman–temannya, namun tidak tertutup kemungkinan ia juga mendapatkan pengaruh.

Sedangkan bagi yang lemah secara karakter maka ia akan cenderung mendapatkan pengaruh yang lebih banyak daripada mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Seseorang yang tadinya baik dan sopan, dalam waktu yang singkat, dapat menjadi orang yang tidak peduli samasekali terhadap norma–norma pergaulan yang dulu pernah ia pegang. Makanya sering kita dengar seseorang berkata kepada temannya, “Kamu tidak seperti dulu lagi” atau, “Kamu yang sekarang bukanlah kamu yang dulu saya kenal” atau perkataan lain yang senada. Hal tersebut tidak lain adalah dampak dari pengaruh lingkungan.

Dulu kami memiliki beberapa orang teman yang sangat sopan dalam berbicara. Kalau mereka berbicara, setiap hati yang tidak berpenyakit akan tentram mendengarnya. Seling waktu yang tidak begitu lama setelah berpisah, kami kembali saling bertemu satu sama lain, namun suasana perkumpulan tersebut terasa berubah begitu drastis. Beberapa dari mereka bahkan mengucapkan kata–kata yang sengaja tidak dicantumkan di dalam pembendaharaan kamus. Telinga yang dirahmati Allah ﷻ tidak akan sudi untuk mendengarnya dalam nuansa candaan atau kelakar sekalipun. Usut demi usut, kami mendapatkan kebanyakan dari teman–teman tersebut telah mengubah haluan hidupnya dan mulai bergaul dengan orang–orang yang tidak menjadikan adab sebagai prioritas perkembangan kepribadiannya. Ketidak-mampuan dalam memilih-milih teman membuat mutiara yang dulu menghiasi lidah mereka menjadi hilang entah kemana digantikan oleh sembilu tajam yang siap menyayat hati lawan bicara mereka.

Sekali lagi, itu semua tidak lain adalah dampak dari pengaruh lingkungan. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika dikatakan; “Siapa yang ingin selamat di dunia hendaklah ia memilih–milih teman, dan siapa yang ingin selamat di akhirat hendaklah ia memilih–milih teman, dan siapa yang ingin selamat di dunia dan akhirat hendaklah ia memilih–milih teman”.

Pada pembahasan ini kami akan mengemukakan secara sederhana tentang alasan pentingnya memilih teman dengan menggunakan pendekatan bahasa ilmiah sederhana agar mudah dipahami oleh setiap pembaca.

Besambung..

Kairo, 21 Jumad 2 1441 H
Editor: Tareq Albana

%d bloggers like this: