December 6, 2020

PERHATIKAN SIAPA TEMANMU! (Bag.2)

Oleh: Abu Ja’far Al-Minangkabawy

ANJURAN UNTUK BERTEMAN DENGAN ORANG SHALEH DAN MENJAUHI TEMAN YANG BURUK

Kata di atas diatas sengaja kami kutip dari judul salah satu bab kitab Sahih Muslimkarena mengutip kebaikan untuk disampaikan kepada orang lain adalah bagian dari kebaikan itu sendiri.
Dari Abu Musa –radhiallahuanhu-, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Sesungguhnyapermisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual misik dan seorang pandai besi. Penjual misik mungkin akan memberimu (misik), atau engkau bisa membeli (misik) darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan api darinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan yang tidak sedap” [Al Bukhary (2101), (5534), Muslim (2628)]

[Misik adalah salah satu jenis minyak wangi sangat harum yang berasal dari hewan. Biasanya diambil dari salah satu cairan yang menyerupai darah dari tubuh rusa misik. Al Mutanabbi berkata: فإنالمسكبعضدمالغزال,“sesungguhnya misik itu bagian (dari) darah rusa”]

Imam An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan bahwa di dalam hadist diatas terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual misik dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadist diatas juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, serta adab. Juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang–orang yang mempunyai sifat tercela lainnya.Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- mengatakan bahwasanya hadist diatas menunjukkan larangan berteman dengan orang orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadist diatas juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.

Dari hadist tersebut kita memahami betapa seseorang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain yang berteman dengannya karena sesungguhnya manusia memiliki naluri mengikuti dan meniru perilaku serta ucapan orang-orang yang berada di sekitarnya terutama orang-orang dekat ataupun orang-orang yang mereka kagumi. Maka sungguh bijak orang yang mengatakan bahwasanya seseorang itu adalah anak dari lingkungan pergaulannya. Jangankan orang lain, binatang pun dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku dan watak seorang manusia. Rasulullah ﷺ bersabda;
وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الْإِبِلِ، وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ
Tinggi hati dan kesombongan ada pada pengembala unta, dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing“ [Muslim ( 91)]

Pengaruh teman bergaul begitu besar dampaknya terhadap perubahan dalam kehidupan seseorang. Ketika Saudara bergaul dengan orang–orang yang rajin belajar dan beribadah, memiliki jiwa disiplin yang tinggi, berkata jujur dan memperhatikan adab dalam pergaulan, maka sedikit atau banyak, cepat atau lambat, Saudara akan terpengaruh oleh gaya hidup mereka. Saudara akan memiliki pola pikir seperti mereka atau setidaknya mendekati pola pikir mereka. Dan sebaliknya, jika Saudara berteman dengan orang–orang yang lalai terhadap dunia dan akhiratnya, Saudara juga akan terpengaruh, karena dalam pergaulan proses pergaulan, saling mempengaruhi mutlak terjadi.

Dari perkataan al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- sebelumnya, “Hadist ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang- orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia”,dapat diambil kesimpulan bahwasanya jika ada seseorang yang tidak memberikan manfaat bagi agama dan dunia kita, maka sebaiknya kita tidak bergaul dengannya, karena bergaul dengannya adalah sebuah kesia-siaan, tidak akan mendatangkan kebaikan samasekali.

Jika ada orang yang memberikan kepada kita manfaat dalam masalah agama dan mencelakakan kita dalam urusan dunia, ini juga tidak baik untuk bergaul dengannya. Di sini berlaku kaidah “la dharara wa la dhiraran”. Jika ia memberikan kepada kita manfaat dalam urusan agama dan tidak menguntungkan ataupun merugikan dalam urusan dunia maka baik untuk berteman dengannya karena agama adalah prioritas utama.
Jika ada orang yang memberikan manfaat dalam urusan dunia dan mencelakakan agama kita, maka menjauhlah darinya karena sesungguhnya ia adalah hamba dunia. Kemudian jika ada orang yang memberikan kita manfaat dalam urusan dunia dan tidak merugikan ataupun menguntungkan kita dalam urusan keagamaan, maka tidak mengapa bergaul dengannya sebatas kebutuhan untuk masalah duniawi dan memberikan nasehat kepadanya adalah sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.

Jika ada yang mencelakakan urusan agama dan dunia kita, maka itulah seburuk–buruknya orang untuk dijadikan teman bergaul. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai benalu kehidupan.Dimanapun berada, mereka akan menimbulkan kerugian bagi orang-orang di sekitarnya.
Terakhir, jika ada yang memberikan manfaat dalam urusan agama dan dunia sekaligus maka ialah sebaik–baiknya orang untuk dijadikan sahabat dekat. Orang-orang seperti ini akan menjadi penolong bagi kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seandainya Saudara sudah memiliki teman seperti ini, maka pertahankanlah ia, jangan sampai melukai hatinya dengan hal–hal yang tidak semestinyadan jangan lupa untuk bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat yang telah Ia limpahkan serta jangan lupa untuk mendoakan sang teman sejati tersebut. Sayangnya sangat sulit untuk mendapatkan orang yang seperti ini pada zaman sekarang.

Orang yang menjaga agamanya dengan sungguh–sungguh, menuntut ilmu di jalan Allah ﷻ, menjaga dan mengembangakan kecakapan sosialnya serta tidak melupakan bagian dunianya susah untuk ditemukan. Dari Ibnu Umar –radhiallahuanhu- Rasulullah ﷻbersabda :
النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ، لَا تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً
“Manusia itu bagaikan seratus onta, hampir tidak bisa engkau dapatkan darinya yang layak untuk dijadikan tunggangan“ [Muslim ( 2547 ) , ibnu Majah ( 3990 ) , Tirmidzi ( 2872 )]

Diantara sekian banyak orang sedikit sekali yang memiliki keunggulan di banyak bidang. Dari seratus orang hanya satu yang benar-benar dapat diandalkan, bertanggunng jawab, berkomitmen, perhatian kepada teman-temannya, saling menasehati akan kebaikan serta memiliki sifat-sifat terpuji lainnya yang berguna untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat.Pertanyaannya, “Bagaimana caranya mendapatkan teman-teman seperti itu?” Ikuti terus silsilah tulisan kami.
Besambung..

Kairo, 21 Jumad 2 1441 H
Editor: Tareq Albana

%d bloggers like this: