December 6, 2020

PERHATIKAN SIAPA TEMANMU! Bag.3

SESEORANG BERADA DI ATAS JALAN TEMAN DEKATNYA

Sebagai makluk sosial, seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi, meniru dan ditiru, baik itu di dalam pergaulan yang bersifat khusus maupun yang lebih umum. Salah satu pergaulan yang dapat memberikan pengaruh yang begitu besar adalah pergaulan dalam konteks pertemanan dan persahabatan.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari –rahimahullah- dari hadist Ibnu Abbas –radhiallahu’anhuma- bahwanya kaum Qurays adalah kaum yang berkuasa atas perempuan–perempuan atau istri-istri mereka. Setelah hijrah ke Madinah, mereka mendapati kaum perempuan Anshar lebih berkuasa atas kaum lelaki mereka. Maka kaum perempuan Qurays mengambil adab tersebut dari para wanita Anshar dan mulailah mereka berani mengoreksi dan membantah kaum lelaki atau suami-suami mereka. Hal ini terjadi tidak lain karena kaum wanita Muhajirin bergaul dengan kaum wanita Anshar sehingga mereka terpengaruh dengan adab perempuan Madinah waktu itu. .[Bukhary (5191), Muslim (1479)].

Apakah Saudara pernah pernah bertanya mengapa kekafiran dan kemunafiqan orang–orang badui pada masa Rasulullah ﷺ lebih parah daripada kekafiran dan kemunafikan orang–orang kafir dan munafiq yang bermukim di Madinah sebagaimana firman Allah ﷻ;

الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا

“Orang–orang arab badui itu lebih sangat kekafirannya dan kemunafikannya  [At Taubah (9): 97] ??

Kekafiran orang-orang badui dan kemunafikan mereka lebih parah karena pada diri mereka terdapat perangai yang kasar dan keras serta mereka diselimuti oleh kebodohan, disaat yang bersamaan mereka juga jauh dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Sedangkan kaum kafir dan munafik di Madinah pada waktu itu bergaul dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabat sehingga membuat mereka sedikit banyak terpengaruh oleh  sifat lembut dan penyang kaum muslimin dan perilaku tersebut terbawa ke dalam kehidupan mereka sehari–hari.

Begitu juga seandainya jika Saudara melihat kepada orang–orang kafir yang tinggal di negara muslim, mereka akan mamandang khamar dan perzinaan itu sebagai sesuatu yang buruk, bahkan tabu. Tetapi jika Saudara melayangkan pandangan kepada orang–orang kafir yang ada di negara–negara barat, mereka memandang perzinaan dan khamar adalah sesuatu yang wajar. Kalaupun ada anak perempuan mereka yang berzina jika sudah mencapai umur dewasa seperti yang mereka tetapkan pada kisaran delapan belas sampai dua puluh tahunan, maka mereka memandang hal itu sebagai sesuatu yang biasa dalam mengekspresikan kebebasan individu. Malah status tetap perjaka atau perawan serta tidak pernah meneguk khamar di umur dua puluhan menjadi aib bagi mereka. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh pergaulan dan lingkungan tempat tinggal.

            Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwasanya seseorang akan berada di atas jalan orang–orang dekatnya dan sahabat adalah salah satu orang dekat tersebut.

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ, فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada si atas jalan teman dekatnya, maka hendaknya setiap kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat “ [Ahmad (13/398 , 8028) , Abu Daud (4833) , Tirmidzi (2738)]

            Seseorang yang dekat dengan orang baik maka besar kemungkinannya  akan menjadi orang baik pula dan sebaliknya, jika seseorang berteman dengan orang yang buruk maka ia akan menjadi seperti temannya tersebut karena dalam pergaulan proses saling mempengaruhi mutlak terjadi.

            Setiap orang akan bergaul dengan orang–orang yang memiliki kemiripan dengannya terutama dari segi jalan pikiran. Dari Abu Hurairah –radhiallahuanhu-  bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda;

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh–ruh itu bagaikan pasukan yang teratur, maka setiap yang saling mengenali dari mereka akan bersatu dan yang saling mengingkari dari mereka akan berpisah“ [ Al-Bukhary (3336), Muslim (2638)

Di dalam kitabnya Tahdzibul Kamal, Imam al Mizzi –rahimahullah- mengutip perkataan Yahya bin Ma’in –rahimahullah- bahwasanya beliau mendengar dari Abdur Razzaaq[1] pada suatu hari sebuah perkataan –yang bernuansa syi’ah-, kemudian Ibnu Ma’in meminta keterangan atas apa yang ia bicarakan tentang al–madzhab (syi’ah) dan ia berkata kepada Abdur Razzaq, “Sesungguhnya guru–guru yang engkau mengambil ilmu darinya adalah orang–orang yang tsiqah, semuanya adalah orang–orang yang memegang sunnah, Ma’mar, Malik bin Anas, Ibnu Juraij, Sufyan At-Tsauri, dan Auza’i.  Lalu dari siapa engkau mengambil perkataan tentang mazhab (syi’ah) ini? Lalu Abdur Razzaaq berkata, “Ja’far bin Sulaiman mendatangi kami dan saya melihat dirinya memiliki keutamaan dan kebaikan maka saya mengambil ini darinya”. [Tahzibul Kamal (18/59)]

Abdu Ar-Razzaaq bin Hamam bin Nafi’ Al Himyari Ash Shan’ani. Abdur Razzaaq bin Hamam Ash-Shan’ani adalah seorang imam tsiqah hafiz,  penulis kitab hadist lebih dari 30 jilid Mushannaf Abdir Razzaq yang merupakan salah satu kitab hadist rujukan. Berguru kepada Imam Malik bin Anas salah satu imam mazhab yang empat, Ma’mar bin Rasyid, Abdul Malik bin Juraij, Sufyan Ats-Sauri, Abdur Rahman bin Umar Al Auza’i. Pada akhir hidupnya ia terpengaruh oleh pola pikir syi’ah.

             Abdur Razzaq rahimahullah yang notabenenya adalah seorang imam yang sangat luas ilmunya tentang Islam, penulis Mushannaf dan tafsir Abddu Razzaq, murid para imam ahlus sunnah pada zamannya, masih bisa mendapatkan pengaruh yang tidak baik dari orang lain, lalu bagaimana kira-kira dengan kita? Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain agar kita selamat dari pengaruh orang-orang buruk selain berhati-hati dalam memilih teman bergaul.

Bersambung…

Kairo, 27 Jumad 2 1441 H/ Abu Ja’far Al-Minangkabawy


[1] Abdu ar Razzaaq bin Hamam bin Nafi’ al Himyari ash Shan’ani. Abdur Razzaaq bin Hamam ash Shan’ani adalah seorang imam tsiqah hafiz,  penulis kitab hadist lebih dari 30 jilid Mushannaf Abdir Razzaq yang merupakan salah satu kitab hadist rujukan. Berguru kepada Imam Malik bin Anas salah satu imam mazhab yang empat, Ma’mar bin Rasyid, Abdul Malik bin Juraij, Sufyan Ats Sauri, Abdur Rahman bin Umar al Auza’i. Pada akhir hidupnya ia terpengaruh oleh pola pikir syi’ah.

%d bloggers like this: