December 6, 2020

Umat Islam Pihak yang Selalu Terzalimi; India Sebagai Contoh

Sumber: Minews.id

Kerusuhan Antar Umat Beragama di India

Oleh: Yahya Ibrahim (Mahasiswa Magister Universitas Al-Azhar)

Apa yang terjadi di India bukanlah barang baru dalam perjalanan panjang umat Islam. Telah terjadi di berbagai periode sejarah dan berbagai tempat di muka bumi, di mana kaum muslimin selalu menjadi sasaran tindak kekerasan, penganiayaan bahkan pembunuhan oleh musuh-musuh agama Allah sejak awal munculnya Islam. Usaha untuk menyerang aqidah dan syariat Islam, kemudian mengaburkan ketetapan agama dan menodai kesuciannya adalah tujuan mereka bersama.

Sebaik apapun perlakuan penguasa muslim dan kaum muslimin ketika berkuasa terhadap musuh-musuh mereka, ketika kekuasaan itu beralih tangan tetap saja perlakuan yang mereka terima sebagai balasannya adalah kekerasan, penganiayaan dan pembunuhan sewenang-wenang. Padahal ketika peradaban Islam dulu tegak di daerah itu masyarakat hidup dalam keimanan, keamanan, keadilan dan kebaikan. Kemanusiaan mencapai puncak keagungannya di bawah syiar Islam tanpa ada lagi kasta-kasta sosial di tengah masyarakat. Keadilan dan kesetaraan antar kelompok mayoritas dan minoritas terwujud, yang tidak pernah ada dalam peradaban manapun selain Islam.

Pembantaian terhadap umat Islam di Timur atau di Barat bumi di tangan musuh-musuh mereka tidak lagi butuh kepada sandaran hukum atau penilaian yang adil. Untuk menumpahkan darah kaum muslimin dan merampas hak utama mereka yang termaktub dalam semua undang-undang baik lokal maupun internasional; hak hidup, cukup dengan alasan yang dibuat-buat, dalih palsu, khayalan orang bingung bahkan tanpa perlu sebuah alasan. Selama mereka muslim maka mereka berhak untuk dizalimi, diintimidasi dan didiskriminasi. Segala hal yang dibanggakan oleh demokrasi dan HAM semuanya hilang dan tidak berlaku bagi sekelompok manusia yang menamakan diri mereka kaum muslimin

Begitulah konklusi tetap dari setiap kasus kaum muslimin yang diperlakukan semena-mena di dunia ini. Apa yang diderita kaum muslimin di India hanyalah salah satu contoh dari semua itu. Penindasan yang sedang terjadi sekarang hanyalah lanjutan dari ketidak-adilan yang sudah berlarut-larut mereka rasakan. Sudah lama mereka menjadi masyarakat kelas dua yang terus dianggap asing di tengah masyarakat mereka sendiri yang sudah melewati begitu banyak generasi.

India sejatinya adalah wilayah yang sangat luas yang saat ini meliputi beberapa negara, yaitu: India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka dan Maladewa. Disebutkan bahwa kontak dunia Islam dengan wilayah India telah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw. pernah mengirim surat kepada raja India, Raja Malipar, untuk menawarkan Islam kepadanya. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Raja Kudunglur (Arab: كدنغلور) pernah mengunjungi Nabi Saw. di Madinah. Kontak dan pengaruh dunia Islam kepada wilayah-wilayah India terus berlanjut di zaman khalifah-khalifah setelahnya. Begitu juga dengan dinasti dan kerajaan Islam yang muncul berikutnya. Hingga pada akhirnya muncul kerajaan Mughal sebagai kerajaan besar asli pribumi India yang berhasil membawa kejayaan bagi wilayah-wilayah ini.

Namun karena kerakusan dan hasutan para penjajah Barat, yang membuat kelompok-kelompok dagang, memecah belah dan mengadu domba masyarakat, menyalakan kampanye pemisahan budaya Arab dan budaya lokal, akhirnya peradaban Islam hancur dan jatuh ke tangan penjajah Inggris. Wilayah ini terpecah belah menjadi beberapa negara sehingga terjadi migrasi besar-besaran. Sedangkan muslim yang bertahan di India termarginalkan dan menjadi masyarakat kelas dua. Walau begitu Islam tetap agama terbesar kedua di India setelah Hindu. Populasi komunitas muslim India mencapai 14.4 % atau sekitar 200 juta orang. India merupakan negara dengan populasi muslim terbesar ketiga di dunia dan populasi terbesar di dunia bagi muslim-minoritas.

Kezaliman dan penindasan yang diderita kaum muslimin di India sudah berlangsung lama. Bahkan seorang anggota kongres India, Shashi Tharoor pernah berkata: “Di India lebih aman menjadi sapi daripada muslim,” seperti dilansir Republika.co.id, Rabu, 2/2/2015. Pemerintahan Narendra Modi dengan partai pendukungnya Bhartiya Janata Party (BJP), sebuah partai radikal Hindu, selalu menggunakan isu anti-muslim dalam kampanye politiknya. Ketika berkuasa dia menerbitkan berbagai kebijakan diskriminatif anti-Islam, menumbuh-suburkan islamofobia, memusuhi simbol dan situs peninggalan Islam dan menanamkan kebencian terhadap Islam dan umat Islam lewat berbagai cara dan media, sehingga menimbulkan berbagai kasus kekerasan terhadap muslim.

Kerusuhan yang telah menelan korban nyawa puluhan orang baru-baru ini, menciderai ratusan lainnya, menghancurkan dan membakar masjid, pertokoan, perumahan dan bangunan lainnya serta kendaraan merupakan puncak dari kezaliman yang terjadi di depan hidung aparat dan pemerintah. Kerusuhan ini dipicu oleh UU Kewarganegaraan yang sangat diskriminatif dan menargetkan komunitas muslim secara terang-terangan.
Kebijakan pertama adalah Citizenship Amendment Bill (CAB). UU ini memberikan amnesti kepada semua imigran gelap selain yang beragama Islam untuk mendapat kewarganegaraan India. Selain ini jelas sebuah diskriminasi agama juga dikhawatirkan kawasan-kawasan muslim akan diserbu oleh para imigran gelap non-muslim.

Kebijakan kedua adalah mencabut pasal 370 Kasmir. Dengan ini Modi mencabut status khusus kawasan ini dan dapat menyebabkan tergusurnya kaum muslimin dari sana. Kebijakan ketiga adalah National Register of Citizens (NRC) yang menyasar komunitas Islam untuk menunjukkan dokumen hubungan darah. Bagi yang tidak bisa membuktikan akan dicabut kewarganegaraannya. Sudah 1,9 juta orang dilucuti kewarganegaraannya yang mayoritas beragama Islam dan akan terus diberlakukan secara nasional di seluruh India.

Tugas utama yang harus kita lakukan tentu saja mendoakan saudara-saudara kita di sana. Tapi yang pasti Islam akan terus ditindas selama tidak ada persatuan dan persaudaraan. Kalau Anda tidak peduli maka akan datang giliran Anda untuk merasakannya. Kita tidak bisa hanya berharap kepada keajaiban yang akan merubahnya, karena keajaiban tidak akan datang kalau tidak dengan usaha kita. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah nasib mereka sendiri.

Editor: Tareq Albana

%d bloggers like this: