December 6, 2020

Dr. Muhammad Imarah, Sang Penjaga dan Pembaharu Itu Telah Pergi

Sumber: Voa-islam.com

Oleh: Yahya Ibrahim Lc

Dunia Islam kembali kehilangan tokoh besar yang memiliki sejarah panjang perjuangan melawan syubhat dan fitnah yang selalu diarahkan kepada Islam. Tulisan dan buah pikir Dr. Muhammad Imarah bagaikan karang yang menghadang fitnah dan penyelewengan terhadap ajaran Islam. Di sisi lain beliau berhasil menunjukkan keagungan ajaran Islam di mana tidak ada satu kebaikan pun dalam ajaran atau ideologi lain kecuali semuanya sudah ada di dalam Islam.

Ya beliau telah meninggalkan dunia ini dan kita semua menuju Tuhannya, meninggalkan begitu banyak warisan berharga bagi umat ini: keteguhannya, keberaniannya, kejujurannya, kecemerlangannya, kezuhudannya, ketauladanannya dan pikirannya yang selalu bergerak dalam nadi kebangkitan Islam. Umat ini harus senantiasa mengkaji dan mengambil pelajaran dari berbagai buku karangan, kajian, pesan dan penelitian beliau agar menjadi dasar dalam pembentukan logika kolektif islami yang kuat. Cendekiawan muslim dan pemikir Islam Dr. Muhammad Imarah berpulang di umur 89 tahun pada hari Jumat, (20/2/2020).

Kabar ini disampaikan putranya, Khalid Imarah melalui media sosialnya. Beliau wafat di usia 89 tahun karena sakit ringan selama tiga pekan terakhir. Jenazahnya dimakamkan pada hari Sabtu (29/2/2020). Khalid berkata: “Pada Jumat sore bertepatan 4 Rajab 1441 H, ayah saya, pemikir Islam, anggota Dewan Senior Ulama Mesir, meninggal dunia setelah sakit ringan kurang dari tiga pekan.”

Khalid juga menambahkan: “Ayah saya meninggal dunia dengan tenang dan tanpa sakit yang membebankan keluarga. Beliau berdoa untuk ibunda saya, putra-putranya, cucunya, dan para pecintanya… Ayah saya meninggal dalam keadaan ridha terhadap semuanya dan memaaafkan semuanya, hingga siapa saja yang pernah menzalimi dan menyusahkan beliau. Di hati beliau yang putih dan penuh kebaikan itu tidak ada membawa satu kedengkian atau dendam kepada seorang pun.”

Beliau lahir di Mesir pada tahun 1931 M dan menghafal Al-Qur`an sebagaimana banyak penduduk desa pada waktu itu. Beliau belajar di Fakultas Dar Al-Ulum dan memperoleh gelar master pada tahun 1970, di mana beliau berada dalam periode pergulatan intelektual antara Marxisme dan pemikiran Islam. Beliau adalah pribadi yang cinta kepada kemerdekaan dan membenci ketidakadilan sosial dan feodalisme. Kepribadian inilah yang membuat beliau pernah menjadi pejuang Marxisme dan slogan-slogan kiri yang menyerukan perdamaian dunia, keadilan dan kemajuan, kemudian perjuangan melawan kolonialisme. Karena aktivitas beliau bahkan di masa kuliah itu beliau pernah diberhentikan selama setahun pada tahun 1957. Di tingkat 4 kuliah pada tahun 1959 M, beliau ditangkap selama lima setengah tahun ketika terjadi penangkapan gerakan sayap kiri di Mesir. Setelah keluar beliau beliau memperoleh gelar S1 pada tahun 1965 M dalam umur 34 tahun.

Namun kemudian beliau menyadari bahwa segala nilai yang beliau perjuangkan itu terdapat di dalam Islam. Bahkan pemikiran Marxisme ini membawa racun dalam madu bagi identitas dan peradaban Islam. Bacaan beliau tentang tulisan-tulisan Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang menyoroti revolusi, keadilan dan kebangkitan Islam adalah faktor paling berpengaruh dalam perubahan ini. Hingga akhir hayat beliau selalu teguh terhadap prinsip anti ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, yang tampak nyata dalam pernyataan-pernyataan beliau ketika revolusi 25 Januari 2011, referendum undang-undang Mesir 2012, kudeta militer 2013, hingga berujung dengan pengunduran diri beliau dari jabatan pimpinan redaksi majalah Al-Azhar 2014.

Dalam ucapan belasungkawanya lembaga Al-Azhar menegaskan: “Almarhum Dr. Muhammad Imarah telah meninggalkan kekosongan yang sulit diisi pada barisan ulama besar yang memikul amanah ilmu dan kejujuran kata. Sejarah akan selalu mengingat di mana Al-Azhar, Arab dan Umat Islam telah kehilangan sosoknya dalam ilmu dan pemikiran moderatnya dalam menyampaikan risalah Allah, membela toleransi dan moderasi Islam, meninggikan kedudukannya, kemudian membantah semua syubhat tentangnya. Karangan-karangannya yang penuh dengan ilmu, hikmah dan pengetahuan, sumbangsihnya yang besar dalam memperkaya pemikiran Islam, yang telah memenuhi dunia dan meliputi semua persoalan pemikiran umum kontemporer, juga ceramah-ceramahnya yang memberi manfaat kepada ribuan penuntut ilmu di dunia Islam telah menjadi saksi atas hal itu.” 

Berbagai pengakuan ulama dan pemikir besar Islam telah kita dengar dalam perayaan 80 tahun Dr. Muhammad Imarah yang diadakan oleh Pusat Media Arab dan Majalah Al-Risalah di aula utama gedung Aliansi Pers, Kairo (2/9/2010), dengan tema: “Muhammad Imarah.. Pemikir Moderasi dan Reformasi”. Berikut saya kutipkan beberapa di antaranya:

Thariq Al-Bisyri, seorang sejarawan dan intelektual terkemuka Mesir mengatakan: “Muhammad Imarah pembuktiannya berada di tangannya berupa berbagai penelitian yang telah ditulisnya. Dia melewati semua kesulitan dan menaiki semua rintangan. Dia adalah contoh prestasi dalam menggabungkan metode akhlak dengan metode ilmiah. Penelitian Muhammad Imarah tidak bisa dicapai kecuali dilakukan oleh lembaga, yayasan dan banyak orang berkompeten. Dia seorang senilai sebuah lembaga penelitian.”

Dr. Hasan Al-Syafi’i, anggota Akademi Bahasa Arab dan Profesor Filsafat Islam di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo, berkata: “Dr. Muhammad Imarah tidak butuh penerangan siapa dia, bahkan mungkin sudah letih dengan itu, karena ia telah menempati wilayah yang sangat luas dalam kajian ilmu pengetahuan Arab kontemporer berupa buku-buku dan artikel-artikel penting. Saya meyakini bahwa persoalan utama Imarah adalah tentang kebangkitan. Ini menjadi titik fokus utama bagi semua karya intelektualnya. Dia bukan hanya seorang peneliti, tapi dia ikut serta di dalamnya… Yang saya tekankan adalah bahwa Imarah dulu dan selamanya adalah Azhari sampai ke tuluang sumsum. Selalu saya tegaskan bahwa mencintai Imarah pertama dan terakhir adalah Al-Azhar itu sendiri, dan dia ketika berdialog menanggapi suatu persoalan seolah dia adalah Muhammad Abduh.”  

Dr. Abdul Halim Uwais, Profesor Sejarah dan Peradaban Islam, mengatakan: “Dr. Imarah itu seorang ensiklopedis di era yang sudah langka orang yang demikian. Dia mengingatkan kita kepada sejarah para ulama dan pemikir besar seperti Muhibbuddin Khatib dan Muhammad Farid Wajdi. Dia mengabdi pada ilmu sepenuhnya, yang tampak pada tulisan-tulisannya yang otentik dan kontemporer. Dia sangat akurat dalam menggunakan dan menganalisis berbagai terminologi. Dia menggabungkan dalam tulisannya antara nasionalisme, cinta negara dan Islam;  persoalan yang telah kokoh dalam pemikirannya sejak bergabung dengan aliran pemikiran Syekh Muhammad Al-Ghazali Rahimahullah.”

Dalam kesempatan yang sama Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi, ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, mengatakan bahwa Dr. Imarah adalah salah satu puncak tertinggi di antara puncak-puncak Islam, seseorang yang dipersiapkan untuk membela agama Allah. Beliau juga menggambarkan bahwa Dr. Imarah adalah salah satu pembaharu Islam yang muncul setiap 100 tahun, yang mengembalikan Islam kepada kemurnian ajarannya dan membersihkan semua penyimpangan dan syubhat yang melekat kepadanya. Beliau juga menambahkan: “Ketika saya ingin menulis tentang Muhammad Imarah saya tenggelam dalam lautan Dr. Imarah dan saya tidak mampu menulis.. Saya bingung menulis tentang apa.. Tentang Imarah seorang da’i, seorang peneliti objektif, seorang penulis.. Imarah, Anda akan capek sendiri menulis tentangnya.. Apakah saya menulis tentangnya sebagai pembicara, penulis atau sastrawan yang memiliki gaya tersendiri.”

Namun Alhamdulillah buku Syekh Yusuf Al-Qaradhawi tentang Dr. Muhammad Imarah itu terbit juga dengan judul “Duktur Muhammad Imarah: Al-Haris Al-Yaqizhu Al-Murabithu ‘Ala Tsughur Al-Islam”, atau “Dr. Muhammad Imarah: Sang Penjaga yang Selalu Waspada yang Berada di Depan Celah-celah Agama Islam.” Yang terbit tahun 2015 lalu, cetakan Dar Al-Maqashid.

Semoga Dr. Muhammad Imarah diberikan rahmat yang luas oleh Allah Swt. di tempat terbaik bersama orang-orang terbaik dari umat ini. Semoga kita bersama termasuk orang-orang yang bisa menghargai dan meneladani orang-orang yang telah berjasa bagi agama ini. Amin…

%d bloggers like this: