December 6, 2020

Kejujuran, Hal yang Sangat Langka Dalam Kehidupan

Oleh: Iqbal Adudu (Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir)

Kejujuran? Sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Walaupun sering kita dengar, akan tetapi kejujuran itu sebenarnya sudah mengalami defisit dalam kehidupan sosial kita. Orang-orang mengatakan, “Kalo nyari orang pinter, banyak. Tapi kalo orang jujur sedikit sekali.”

Sebagai muslim yang baik, perlu dicatat bahwa Islam memerintahkan kita untuk jujur. Badiuzzaman Said Nursi rahimahullah mengatakan bahwa Kejujuran merupakan perinsip dasar ajaran Islam. Di tempat lain, beliau rahimahullah berujar bahwa kejujuran itu juga layaknya batu dalam fondasi kehidupan sosial kita.

Jika kejujuran adalah fondasi dari kehidupan sosial kita, lantas jika kejujuran itu sirna maka sudah pasti kehidupan sosial kita akan runtuh, kita tidak akan percaya lagi kepada teman yang kita ajak bicara, atau kepada mantan yang ngajak balikan misalnya. Jika kejujuran itu sirna, maka setiap lini kehidupan kita akan diliputi kekhawatiran, yakni khawatir dibohongi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar!” (QS At-Taubah: 119)

Maksud dari “…Hendaklah kalian bersama orang-orang benar.” adalah bersama-sama dengan orang yang jujur. Dalam kitab Al-Mukhtashar Fi Tafsir Al Qur’an Al Karim, dijelaskan maksud dari akhir ayat tersebut, yakni “bergabunglah bersama orang-orang yang jujur dalam keimanan, ucapan, dan perbuatannya. Karena tidak ada keselamatan bagi kalian kecuali di dalam kejujuran.

Dari Abdullah lbnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عليكم بالصدق فإن الصدق يهدى إلى البر وإن البر يهدى إلى الجنة وإن الرجل يصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإياكم والكذب فان الكذب يهدى إلى الفجور والفجور يهدى إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

Selayaknya bagi kamu untuk berlaku jujur, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menghantarkan ke surga. Sesungguhnya, seseorang jika berlaku jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah berlaku dusta, karena dusta mengantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantarkan ke neraka. Sesungguhnya seseorang jika berlaku dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”i

Salah satu ciri dari sifat munafik adalah suka berkata tidak jujur(bohong). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.

Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: jika dia berbicara dia dusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya dan jika dia dipercaya maka dia berkhianat.”ii

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya bagi kita untuk benar-benar berusaha berbuat jujur, hingga kita ditulis di sisi Allah sebagai agen kejujuran yang tentunya akan menghantarkan kita menuju Jannah-Nya – Insya Allah – yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Allah berfirman:

قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah berkata: Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka rida terhadap Allah. Itulah keberuntungan yang paling besar“. (QS Al-Maidah: 119)

Itulah janji Allah kepada orang orang yang jujur, yakni surga yang sangat indah. Tidak hanya itu, di dunia, orang-orang yang jujur selain disenangi oleh teman sejawat, ia juga akan diberikan ketenangan secara psikis oleh Allah.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ.

Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dengan mengerjakan apa-apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan sesungguhnya kedustaan (akan mengantarkan kepada) keragu-raguan atau kebingungan.”iii

Badiuzzaman Said Nursi rahimahullah berkata:

“Tidak ada rasa aman dan tenang di masa sekarang akibat kebohongan yang dilakukan umat manusia…”

Kenapa demikian? Alasannya, ketika kita berbohong, maka tubuh kita akan melepaskan kortisol dan hormon steroid pada otak. Hal ini mengakibatkan otak bekerja lebih keras untuk mengingat antara kebenaran dan kebohongan, hal ini berlangsung selama 10 detik, pada akhirnya kebohongan ini bisa membuat kita marah, karena bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam kasus yang lain, kebohongan juga dapat memecah konsentrasi kita, membuat kita sulit tidur hingga mengakibatkan stres. Efek buruk lainnya, jika kita sering berdusta, maka kita akan percaya dengan kedustaan kita sendiri, hal ini tentu amat sangat buruk.

Maka sekali lagi penulis menekankan kepada diri penulis dan pembaca untuk benar-benar bisa menjauhi sifat suka berbohong ini, agar kita terhindar dari serangkaian efek negatif yang massif, baik secara psikologis, sosiologis dan lainnya.

Salah satu cara melatih kejujuran adalah dengan berkumpul bersama orang-orang yang jujur.

Imam Hasan al Bashri rahimahullah berkata:

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَكُوْنَ مَعَ الصَّادِقِيْنَ، فَعَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا، وَالكَفُّ عَنْ أَهْلِ المِلَّةِ.

“Apabila engkau ingin bersama orang-orang yang jujur, maka engkau wajib berzuhud terhadap dunia dan menahan diri dari (mengikuti) orang kafir.”iv

Masih mengenai kejujuran, Dalam kitabnya Al Khutbah Asy Syamiyah, Syaikh Al-Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi rahimahullah memberikan kita nasihat yang sangat berharga, yakni:

“Ya, engkau harus jujur dalam setiap ucapanmu. Akan tetapi, tidaklah benar jika engkau mengutarakan semua kejujuranmu. Apabila dalam keadaan tertentu kejujuran bisa menimbulkan bahaya, maka lebih baik diam. Sementara berdusta sama sekali tidak diperbolehkan.”v

Beliau rahimahullah juga berkata:

Engkau harus mengatakan yang benar di setiap pembicaraan. Namun bukan berarti engkau harus mengutarakan semua fakta kebenaran. Sebab kebenaran kadangkala bisa melahirkan dampak positif sehingga memposisikannya bukan pada tempatnya.”vi

Wallaahu a’lam.

Daftar Pustaka:

– Al Qur’an Digital Onlinehttps://tafsirweb.com. (26 September 2019).

– Ardiansyah, Said Ya’i. 2015. Sudah Jujurkah Kita?https://muslim.or.id/26155-sudah-jujurkah-kita.html. (26 September 2019).

– Al Mukhtashor Fii Tafsir Al Qur’an Al Karim. Team Markaz Tafsir, penterjemah. Markaz Tafsir Li Ad Dirasatil Qur’aniyyah: Riyadh, Kingdom Saudi Arabia.

– Nursi, Badiuzzaman Said. 2014. Al Khutbah Asy Syamiyah. Fauzi Faishal Bahresy. Risalah Nur Press: Jakarta, Indonesia.

– Santi, Lilin Rosa. Ini Yang Terjadi Pada Otak Ketika Berbohong. 2017. https://www.liputan6.com/health/read/3150644/ini-yang-terjadi-pada-otak-ketika-berbohong. (26 September 2019).

– Takrij Hadisthttp://www.carihadis.com. (26 September 2019)

Footnotes:

i HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim 2607.

ii HR. Al-Bukhari no. 33 dan Muslim 59/211.

iii HR. At-Tirmidzi no. 2518.

iv Tafsir Ibnu Katsir.

v Badiuzzaman Said Nursi, Al Khutbah Asy Syamiyah. (Fauzi Faishal Bahresy, penterjemah. Jakarta: Risalah Nur Press, 2014) hlm. 47.

vi Ibid.

%d bloggers like this: