December 6, 2020

Korelasi Antara Ilmu Mantik dan Ushul Fikih

Oleh: Randy Alfajri (Mahasiswa Magister Universitas Al-Azhar)

Sebagaimana diketahui secara jamak oleh para penuntut ilmu agama, bahwa setiap cabang ilmu itu memiliki hubungat dengan cabang ilmu lainnya dan seolah-olah semua cabang ilmu agama itu seperti satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Begitupun antara ilmu mantik dan ilmu ushul fikih. Kedua ilmu ini memiliki peran yang sangat besar dalam pemahaman seorang penuntut ilmu agama terutama dalam permasahan fikih yang mana tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari setiap muslim, karena fikih itu meliputi semua gerak dan lini kehidupan seorang muslim. Akan tetapi dalam tulisan ini kami tidak mengupas bentuk pentingnya ilmu fikih tersebut, akan tetapi lebih kepada pentingnya sebuah ilmu yang dibutuhkan oleh ilmu fikih yaitu bernama ilmu ushul fikih dan bagaimana hubungannya dengan ilmu ilmu mantik atau ilmu logika.

Ilmu ushul fikih dan ilmu mantik adalah 2 ilmu yang sangat penting, kedua ilmu ini sangat dibutuhkan oleh seorang pelajar ilmu syariat dan juga memiliki peranan yang sangat besar dalam membangun malakah keilmuannya. Ilmu usul fikih adalah ilmu tentang bagaimana cara menyimpulkan atau mengeluarkan satu hukum dari sebuah dalil baik itu alquran ataupun sunnah.

Ilmu ushul fikih lebih banyak dikenal dan dipelajari oleh para pelajar ilmu syariat, sedangkan ilmu mantik pada prakteknya lebih sedikit dipelajari bahkan masih ada yang belum mengetahui ilmu tersebut. Dan juga ada sebagian pelajar ilmu syariat menyangka bahwa ia bisa mencukupkan dengan belajar ilmu usul fikih tanpa perlu belajar ilmu mantik, dan ini adalah sebuah kekeliruan. Karena para ulama diantaranya imam alghazali sudah menyebutkan bahwa llmu mantik adalah ilmu yang wajib dipelajari sebelum mempelajari ilmu usul fikih.  Dan untuk membuktikan hal ini kita bisa melihat bagaimana hubungan antara kedua ilmu tersebut.

Secara defenisi ilmu mantik adalah ilmu  yang mempelajari tentang kaidah-kaidah logika yang mana dengan menerapkan kaidah tersebut bisa menjaga kita dari kesalahan dalam berpikir. Sedangkan ilmu usul fikih adalah ilmu tentang kaidah-kaidah umum  sebagai pondasi dari permasalahan fikih. Dan juga sudah diketahui bahwa kaidah yang dibahas di dalam ilmu usul fikih adalah kaidah logika, akan tetapi kaidah tersebut terkhusus dalam suatu topik yaitu permasahan fikih.

Maka disini mulai terlihat bagaimana hubungan antar ilmu usul fikih dan ilmu mantik yaitu memiliki objek pembahasan yang sama yaitu pembahasan tentang kaidah-kaidah logika yang mana ilmu mantik membahas kaidah-kaidah logika yang umum sedangkan ilmu usul fikih membahas tentang kaidah-kaidah yang lebih khusus yaitu hanya yang terkait permasalahan fikih. Dapat disimpulkan secara sederhana hubungan antar 2 ilmu tersebut adalah umum dan khusus secara mutlak. Yang mana ilmu mantik lebih umum secara pembahasan daripada ilmu usul fikih.

Selanjutnya kita melihat pembahasan-pembahasan yang ada di dalam kedua ilmu tersebut. Ketika mempelajari ilmu usul fikih, para ulama menyebutkan bahwa ada sumber dalil yang disepakati dan ada sumber dalil yang diperselisihkan. Dan sumber dalil yang telah disepakati ulama usul fikih yaitu alquran, sunnah, ijmak dan qiyas. Masing-masing sumber dalil yang 4 ini memiliki sub pembahasan tersendiri, contohnya alquran dan sunnah memiliki pembahasan tentang dilalatu alalfazh beserta pembagiannya, qiyas memiliki pembahasan tentang misalnya dalam Istiqra’ penelitian apakah boleh mengetahui dengan sebab atau tidak boleh?, dan juga membahas tentang misalnya dalalah atau petunjuk kebiasaan dalam hukum syariat, dan juga membahas tentang hadits-hadits mutawatir dan ahad, dan pembahasan-pembahasan lainnya.

Dan adapun ketika mempelajari ilmu mantik, pembahasannya tidak lepas dari tasawur dan tasdiq dan semua kaidah umum tidak lepas fungsinya daripada akan menyampaikan kita pada tasawur dan tasdiq, maka dari sini dapat kita ketahui bahwa dalam mempelajari mantik kita harus juga membahas tentang pentunjuk lafaz, qiyas umum, qiyas permisalan, dan Istiqra’, dan juga membahas tentang tempat diambilnya tasawur dan tasdiq yaitu dalil akal dan dalil naqli, dan lain sebagainya.

Setelah kita melihat perbandingan bahasan kedua ilmu tersebut maka kita berkesimpulan bahwa keduanya memiliki persamaan di beberapa pembahasan, seperti pembahaasan tentang qiyas umum, qiyas permisalan, Istiqra’, petunjuk lafaz, dan pembahasan lainnya. Dan ini semua menunjukkan adanya hubungan yang erat antar kedua ilmu tersebut.

Dengan kita mengetahui hubungan antara ilmu mantik dan ilmu usul fikih yang mana memiliki hubungan umum dan khusus mutlak yang mana ilmu mantik lebih umum dan ilmu usul fikih lebih khusus dan juga mengetahui adanya beberapa pembahasan yang sama antara keduanya, maka bisa kita simpulkan bahwa ilmu usul fikih sangat membutuhkan ilmu mantik supaya dapat memahami usul fikih lebih sempurna.

Dan pada akhirnya kita dapat membantah orang yang mengatakan bahwa bisa mempelajari ilmu usul fikih tanpa mempelajari ilmu mantik adalah sebuah sangkaan yang salah.

%d bloggers like this: