December 6, 2020

Perhatikan Siapa Temanmu! Bag. 4

SAHABAT KELAK AKAN MENJADI MUSUH DI AKHIRAT KECUALI YANG BERTAQWA

Persahabatan akan membawa seseorang kepada penyesalan yang sangat besar pada hari kiamat nanti kecuali persahabatan yang dilandasi dengan rasa taqwa kepada Allah ﷻ.Setelah menjelaskan tentang kepastian datangnya hari kiamat, Allah ﷻ berfirman;

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman –teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” [Az-Zukhruf (43):67]

 Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Firman Allah ﷻ –Teman–teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang–orang bertaqwa– maksudnya adalah setiap pertemanan dan persahabatan yang bukan karena Allah ﷻ, sesungguhnya pertemanan dan persahabatan tersebut akan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat, dan pertemanan karena Allah ﷻ akan bersifat kekal“.

Di dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir –rahimahullah- mengutip sebuah cerita yang sangat menarik tentang bab ini. Beliau –rahimahullah- setelah mengurut sanadnya dari Abdurrazzaq hingga Ali –radhiallahuanhu- berkata:

“Ada dua orang mu’min saling bersahabat dan dua orang kafir saling bersahabat. Ketika salah seorang dari orang mu’min meninggal dunia, iapun teringat akan sabatnya kemudian berkata, “Ya Allah! sesungguhnya fulan itu adalah sahabatku, dahulu ia menyuruhkuku untuk taat kepada-Mu dan rasul-Mu, dan menyuruhku akan kebaikan serta melarangku akan keburukan, ia juga mengabarkan kepadaku bahwasanya akau akan menjumpai-Mu. Ya Allah! maka oleh karena itu janganlah Engkau sesatkan dia setelah kematianku hingga engkau perlihatkan kepadanya  seperti yang Engkau perlihatkan kepadaku, dan ridhailah ia sebagaimana Engkau ridha kepadaku”. Kemudian dikatakan kepadanya, “Pergilah! Seandainya engkau tahu apa yang dipersiapkan untuknya di sisi-Ku, maka engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis”. Ia(Ali) berkata, “Kemudian yang satunya lagi pun meninggal dunia, dan ruh mereka pun saling bertemu, dan dikatakan kepada mereka, “Hendaklah kalian saling memuji satu sama lain!”. Kemudian mereka berkata, “inilah Sebaik–baiknya saudara, sebaik-baiknya sahabat, dan sebaik–baiknya teman dekat “.

Kemudian Ali –radhiallahuanhu- melanjutkan, ”Dan apabila mati salah satu dari dua orang kafir tersebut  kemudian ia diancam dengan api neraka, maka ia teringat akan temannya lalu ia berkata: Ya Allah! sesungguhnya temanku, si fulan, dahulunya menyuruhku untuk ingkar kepada-Mu dan ingkar kepada rasul-Mu, ia juga  menyuruhku akan keburukan dan melarangku akan kebaikan, dan ia mengabarkan kepadaku bahwa sesungguhnya aku tidak akan menjumpai-Mu, Ya Allah! maka janganlah engkau memberinya petunjuk setelah kematianku hingga Engkau perlihatkan kepadanya seperti yang engkau perlihatkan kepadaku, dan murkailah ia sebagaimana Engkau telah murka kepadaku. Kemudian yang satunya lagi pun meninggal dunia, dan ruh mereka pun saling bertemu, dan dikatakan kepada mereka: Hendaklah kalian saling memuji –maksudnya mencela- satu sama lain! kemudian mereka berkata, “Inilah seburuk–buruknya saudara, seburuk-buruknya sahabat, dan seburuk–buruknya teman dekat “.

Secara sederhana kita dapat memahami bahwa pertemanan dan persahabatan terbagi atas dua bentuk; yang dilandasi karena Allah ﷻ dan yang dilandasi oleh selain Allah ﷻ.Adapun yang dilandasi oleh rasa taqwa kepada Allah ﷻ maka hal ini akan membawa keberuntungansedang yang dilandasi oleh selain Allah ﷻ maka akan membawa seseorang kepada kerugian dan penyesalan.

            Untuk mengetahui apakah persahabatan atau pertemanan yang sedang Saudara bangun berlandasan rasa taqwa kepada Allah 󽿛 atau tidak, cukup dengan melihat secara sederhana kepada hubungan tersebut. Jika seandainya interaksi yang berlangsung antara Saudara dan sahabat Saudara itu dapat mengingatkan Saudara kepada Allah ﷻ,  berpisah dan berjumpa dengannya berharap ridha Allah ﷻ serta pertemanan dapat menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan sia–sia, maka persahabatan itu adalah berdasarkan rasa taqwa  kepada Allah ﷻ. Namun jika seandainya persahabatan itu selalu atau sering manjerumuskan kepada perbuatan dosa dan kesia–siaan, maka hubungan Saudara dengannya  bukanlah karena Allah ﷻ melainkan karena urusan dunia atau hawa semata.

            Lalu apa yang harus dilakukan jika seandainya Saudara terjerumus ke dalam persabatan yang bukan karena Allah ﷻ? Sebagai orang yang berakal, Saudara tidak perlu meninggalkan sahabat Saudara tersebut secara langsung karena beban dakwah kepada mereka diletakkan oleh Allah ﷻ di atas pundak Saudara. Namun jika dengan segala upaya yang sudah dilakukan untuk berubah dan mengubah keadaan, persahabatan  dengannya tidak menunjukkan titik terang untuk menjadi persahabatan yang baik yang dilandasi rasa taqwa kepada Allah ﷻ maka tidak ada pilihan lain bagi Saudara kecuali meninggalkannya demi menyelamatkan agama Saudara. Jika Saudara memilih untuk tetap bersamanya, maka penyesalan besarlah yang akan memberitahukan bahwasanya keputusan Saudara untuk bertahan dengan persahabatan yang seperti itu adalah sebuah kesalahan fatal.

Sekali lagi ketahuilah!1 Bahwasanya tidak semua persahabatan akan bertahan sampai ke akhirat, sebahagian darinya akan berujung kepada permusuhan. Maka oleh karena itu, hendaklah Saudara lebih selektif dan berhati-hati dalam masalah pertemanan ini. Jauhilah sebisa mungkin orang–orang yang bisa menjerumuskan Saudara ke dalam perbuatan maksiat dan dosa, dan jangan sesekali menjadikan orang-orang kafir dan orang-orang munafik sebagai teman dekat agar Saudara terhindar dari keburukan dunia dan akhirat.

Kairo, 27 Jumad 2 1441 H

Abu Ja’far Al-Minangkabawy

%d bloggers like this: