December 6, 2020

Pro dan Kontra Menikah Muda Dikalangan Masisir

Oleh: Khairul Amal El Hifzi

Menikah adalah hal yang banyak menjadi pro dan kontra di kalangan masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Terjadi demikian karena disebabkan setiap orang memiliki prinsip dan latar belakang yang berbeda dalam melaksanakan pernikahan apalagi di usia yang masih muda. Berikut beberapa alasan pro dan kontra tentang menikah muda dalam kalangan masisir:

1. Karir

Dalam persoalan kaitannya menikah muda dengan karir, kebanyakan mahasiswa yang kontra beranggapan bahwa menikah muda bisa menyebabkan kurang fokus dalam mengejar karir atau cita-cita karena akan bertambahnya kewajiban dalam kehidupannya yang awalnya kewajibannya hanya menuntut ilmu namun setelah menikah bertambah lagi kewajibannya menafkahi istri dengan bekerja di masa-masa masih berkuliah.

Sedangkan bagi kebanyakan mahasiswa yang pro mereka beranggapan bahwa dengan menikah muda itu akan membuat semakin fokus mengejar karir karena fikiran dan nafsu nya akan menjadi tenang sehingga ketika mengejar karir atau belajar mereka bisa fokus tanpa ada perasaan memikirkan atau terbayang bayang dengan lawan jenis yang mereka kagumi. Dan ada pendapat juga yang mengatakan bahwa dengan menikah akan memperkuat hafalan baik itu hafalan Al-Qur’an ataupun pelajaran.

2. Finansial

Dalam persoalan finansial mahasiswa yang kontra beranggapan bahwa menikah muda itu harus siap secara finansial karena menikah itu membutuhkan banyak dana seperti biaya untuk mahar, walimahan, kebutuhan-kebutuhan acara lain, dsb. Apalagi setelah menikah bagi laki-laki harus menafkahi istri dengan penghasilannya. Mereka yang kontra dalam persoalan finansial kebanyakan karena berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga menyebabkan mereka kurang setuju menikah muda karena latar belakang yang demikian dan kurangnya kesiapan dalam hal finansial.

Sedangkan bagi kebanyakan mahasiswa yang pro mereka berpendapat bahwa menikah muda itu akan melapangkan rezeki. Karena Allah menjanjikan kemurahan rezeki bagi mereka yang menikah. Dan sebagian kalangan yang proberasal dari keluarga yang kaya finansialnya sehingga tidak masalah bagi orang tuanya untuk membantu anaknya selama masih berkuliah.

3. Kesiapan mental dan emosional

Dalam persoalan kesiapan mental dan emosional mahasiswa yang kontra beranggapan bahwa di usia yang masih sangat muda kebanyakan mahasiswa emosinya masih membara dan labil, cenderung mengikuti keegoisan masing-masing, sedikit pengalaman dan pengetahuan mengenai kehidupan pernikahan itu menyebabkan rentan terjadi permasalahan-permasalahan dalam rumah tangga. Dengan demikian dibutuhkan kesiapan yang benar-benar matang dalam hal mental dan emosional. Sehingga mereka lebih memilih untuk tidak menikah muda dan terus mempersiapkan mental, emosi, dan pengetahuan untuk berkeluarga di masa yang akan datang.

Sedangkan bagi kebanyakan mahasiswa yang pro mereka bependapat bahwa dengan menikah muda akan melatih diri menjadi seorang yang saling bertanggung jawab dan sabar. Faktanya sebagian pasangan yang menikah muda menjadi semakin dewasa, pandai mengontrol emosi dan menjadi lebih bijak dalam menanggapi segala persoalan kehidupan.

4. Keamanan

Melihat situasi keamanan di mesir yang belum terjamin bagi para mahasiswa terutama yang akhwat. Dan tidak jarang pula terjadi kejahatan-kejahatan berupa pelecehan, perampokan, bahkan penyerangan dengan senjata tajam yang dirasakan beberapa akhwat masisir oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehingga banyak pro dan kontra menikah muda yang berkaitan dengan keamanan di Mesir khususnya bagi para akhwat masisir.

Menurut mahasiswa yang pro, dengan menikah bagi akhwat akan ada yang bisa menjaga, menemani, dan membimbingnya sehingga dapat menimbulkan kenyamanan dan meningkatkan keamanan akhwat dalam beraktivitas di Mesir. Tidak jarang juga banyak hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki seperti pekerjaan-pekerjaan berat, memperbaiki alat-alat yang rusak di rumah, berurusan dengan orang Mesir yang terkadang keras kepala terutama terhadap akhwat masisir. Sehingga melihat keadaan yang demikian dibutuhkan laki-laki yang bisa selalu ada siap untuk membantu. Dengan menikah muda akan sangat membantu persoalan-persoalan yg demikian itu.

Sedangkan bagi sebagian para mahasiswa yang kontra beranggapan bahwa tidak harus dengan menikah. Karena masisir khususnya para akhwat yang butuh bantuan, atau ada permasalahan bisa meminta tolong kepada senior-senior dan teman-teman dari berbagai organisasi seperti almamater atau kekeluargaan baik yang akhwat ataupun yang ikhwan dengan tetap memperhatikan batasan-batasan antara interaksi laki-laki dan perempuan sesuai yang diajarkan Islam.

Dengan beberapa pro dan kontra tersebut kita dapat mengetahui latar belakang dan sudut pandang setiap orang yang berbeda tentang menikah muda di kalangan masisir. Sehingga dengan mengetahuinya juga kita bisa melihat diri sendiri yang cenderungnya berada di keadaan yang bagaimana. Dan kemudian bisa kita jadikan pelajaran untuk saling menghormati perbedaan pendapat, prinsip dan latar belakang setiap orang dalam persoalan menikah di kalangan masisir.

%d bloggers like this: