December 6, 2020

3 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Mempelajari Suatu Ilmu

Oleh : Uyung Yaskur

Diantara kaidah dasar dalam disiplin keilmuan Islam yang sering diulang-ulang di awal pembahasan kitab dasar disetiap bidang ilmu :
“لا بد لكل شارع في كثرة أن يتصورها في وحدة ما”
“Seseorang yang akan memasuki suatu bidang keilmuan, harus mengenalinya (terlebih dahulu) dari sudut pandang tertentu”

Kenapa harus mengenalinya dari sudut pandang tertentu saja? Kenapa tidak melahap semua pembahasannya secara langsung?. pasti itu yang pertama kali terlintas dibenak kita ketika membaca kaidah ini.

Dalam kaidah ini kata al-`ilm  (Ilmu) diibaratkan dengan kata al-katsrah, karena diantara definisi al-`ilm (Ilmu) adalah kumpulan permasalahan, “Ilmu Nahwu” berarti berisi kumpulan masalah dalam pembahasan nahwu (Kaedah bahasa Arab),

“Ilmu fikih” berarti masalah – masalah didalam fikih, suatu fann ilmu adalah kumpulan dari banyak masalah (al-qadhyah) yang terdiri mawdhu` (subjek) dan mahmul (prediket), seperti halnya dalam ilmu fikih didalam nya ada banyak permasalahan (al-qadhyah) diantaranya : solat itu wajib dan wudhu adalah syarat dari solat, dalam ilmu nahwu : al-kalimah berupa ism, fi’l dan harf, fa’il itu marfu’, hal itu hukumnya manshub dan lain sebagainya.

Jika yang dimaksud dengan al-`ilm disini merupakan masalah, yang mana masalah suatu ilmu hampir tak terhitung jumlahnya, bahkan dikatakan masalah fiqh di suatu kitab tingkat tinggi (level ke-3 dalam keilmuan islam) saja ada sebanyak 300.000 masalah, maka tak heran kalau kata al-katsrah (banyak) sangat tepat dipakai dalam konteks ini.

Seorang yang ingin meneyelami suatu bidang ilmu yang baru tidak bisa serta merta langsung masuk ke pembahasannya, karna sebagaimana yang telah dibahas tadi bahwa masalah dalam suatu disiplin ilmu itu tidak sedikit jumlahnya, dan memahami sesuatu yang banyak secara langsung mustahil. Seperti halnya anda jatuh hati ketika melihat seorang wanita dan ingin meminangnya, lalu tanpa melalui alur percintaan seperti PDKT, pacaran dan lain sebagainya, anda langsung menyodorkan cincin berlian kepadanya didepan khalayak ramai sembari berlutut dihadapannya, apa yang terjadi selanjutnya? Bisa saja perempuan itu melempar cincin berlian tersebut dan menampar anda, dan itu hanya akan mempermalukan diri sendiri di depan umum.

Apalagi dalam memahami suatu bidang keilmuan. Sehingga dibutuhkan dahulu beberapa pengetahuan dari sudut pandang apa pun dari disiplin ilmu tersebut, apapun itu. sebelum melahap pembahasan ditahapan selanjutnya yang telah disusun rapi oleh ulama-ulama kita.

Pengetahuan itu harus mewakili dari hakikat disiplin ilmu tersebut, mencakup semua masalah yang dibahas didalamnya. Kalau dianalogikan, ketika ada seseorang yang belum pernah menyentuh semua yang berhubungan dengan ilmu nahwu menanyakan hakikat ilmu tersebut, lalu anda menjawab : ” ilmu nahwu itu adalah ilmu yang bisa menghindarkan kita dari kesalahan dalam berbahasa arab” dengan satu pengetahuan dari sudut pandang tujuan dari ilmu tersebut telah mewakili semua masalah yang banyak dipembahasan ilmu nahwu”. Oleh karena itu telah jelaslah bahwa kita dalam upaya memahami suatu ilmu harus melewati pintu-pintu yang ditetapkan kan ulama-ulama kita terlebih dahulu.

Dimana gerbang yang bisa mengikat semua masalah ilmu yang banyak itu dibahasakan dengan al wahdah (kesatuan) dalam kaidah ini, apa aja sih al-wahdah(Kesatuan) itu?

1. Al-Ta’rif (Definisi)

Dengan mengetahui definisi ilmu tersebut bisa memberikan kita gambaran awal ilmu yang akan kita pelajari tersebut dan membedakan nya dari ilmu-ilmu lainnya. Definisi dalam diskursus keilmuan islam sendiri bercabang dua, yang pertama mendefinisikan dengan hakikat limu itu tersendiri yang disebut dengan ta’rif bi al-had, adapun yang kedua dengan sesuatu yang diuar dari hakikat ilmu itu sendiri, seperti tujuannya, ini disebut dengan ta’rif bi al-rasm. Adapun untuk pemula yang baru menempuh jalan ke lautan ilmu tersebut, sebaiknya mengetahui ta’rif bi ar-rasm dahulu, karna definisi bi al had hanya akan membuatnya bingung. Karna pada dasarnya dia belum mempelajari hakikat ilmu tersebut.

2. Al-Mawdhu’ (Objek)

Merupakan fokus yang akan dibahas dalam ilmu tersebut apakah membahas perbuatan seorang hamba sebagaimana ilmi fikih ataupun kata-kata berbahasa arab seperti ilmu nahwu.

3. Al-Tsamrah (Tujuan)

Dalam mempelajari suatu bidang keilmuan harus melihat tujuan yang akan dicapai. Kita harus memastikan usaha yang kita curahkan dalam mempelajari nya setimpal dengan apa yang akan kita dapatkan. Dengan mengetahui tujuan dengan jelas akan membuat kita lebih bersemangat untuk meraihnya dan bisa menjadi pemecut semangat ketika dihadang rintangan menuju tujuan tersebut .

%d bloggers like this: