August 11, 2020

Apakah Corona sama dengan Thaun (الطاعون)?

Oleh: Afriul Zikri

Virus Corona (COVID-19) telah menarik perhatian seluruh masyarakat dunia. WHO telah resmi menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pandemi adalah tingkat tertinggi untuk darurat kesehatan global dan menunjukkan bahwa wabah yang meluas ini mempengaruhi banyak wilayah di dunia.

Dalam tulisan singkat ini saya akan menyinggung dua poin yang menjadi perbincangan publik dan memicu perbedaan pendapat ; pertama, apakah Corona ini termasuk kategori Thaun? Dan apa saja konsekuensi kesamaan atau perbedaannya? Kedua, perihal wajib mengikuti dan mematuhi himbauan pemerintah.

1. Corona apakah termasuk Thaun? Para ulama berbeda pendapat perihal wabak (وباء) dan thaun (طاعون). Ada yang menyamakan dan ada yang membedakan.
Imam Nawawi rahimahullahu di dalam kitab al-Minhaj Syarah Sahih Muslim menjabarkan definisi dari thaun :

وَأَمَّا الطَّاعُونُ فَهُوَ قُرُوحٌ تَخْرُجُ فِي الْجَسَدِ فَتَكُونُ فِي الْمَرَافِقِ أَوِ الْآبَاطِ أَوِ الْأَيْدِي أوالأصابع وَسَائِرِ الْبَدَنِ وَيَكُونُ مَعَهُ وَرَمٌ وَأَلَمٌ شَدِيدٌ وتخرج تلك القروح مع لهيب ويسود ماحواليه أَوْ يَخْضَرُّ أَوْ يَحْمَرُّ حُمْرَةً بَنَفْسَجِيَّةً كَدِرَةً وَيَحْصُلُ مَعَهُ خَفَقَانُ الْقَلْبِ وَالْقَيْءُ.

“Thaun adalah sebuah wabah penyakit yang memiliki ciri-ciri berupa pembekakan seperti bisul. Lokasi yang sering dihinggapi adalah seperti siku, ketiak, tangan, jari dan bagian tubuh lainnya. Pembengkakan ini menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Bisul ini keluar dengan cairan panas. Hal ini berlanjut dengan memberikan efek kepada anggota tubuh yang dihinggapinya, hingga menjadikannya berwarna hitam atau hijau atau merah. Menimbulkan debar-debar dan muntah”.

Adapun wabak (وباء), menurut Imam Khalil bin Ahmad di dalam kitab beliau “al-‘Ain” tidak ada bedanya dengan thaun. Wabak adalah thaun dan thaun adalah wabak.
Tetapi hal ini disanggah oleh Imam Nawawi, beliau menegaskan bahwa wabak adalah suatu wabah penyakit yang menimpa banyak orang di beberapa tempat khusus dan penyakitnya hanya satu macam. Sehingga penyakit ini berbeda dengan yang biasanya diderita oleh orang lain. Simpelnya imam Nawawi tegaskan :

وَكُلُّ طَاعُونٍ وَبَاءٌ وَلَيْسَ كُلُّ وَبَاءٍ طَاعُونًا

“Setiap thaun adalah wabak dan tidak setiap wabak adalah thaun”.

Hal ini juga diamini oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, bahkan beliau menulis sebuah kitab khusus yang mengulas secara komprehensif dan eksplisit perihal thaun ini, kitab tersebut berjudul “Badzlul mâ’ûn fî fadhli ath-Thâ’ûn”. Dalam kitab ini beliau menyebutkan definisi dari berbagai pakar, fikih dan kedokteran. Dan beliau menyimpulkan bahwa thaun sangat berbeda dengan wabak. Thaun lebih khusus dan spesifik dibandingkan wabak. Bahkan di dalam wabah thaun ini ada campur tangan jinnya tegas beliau. Penyamaan thaun dengan wabak hanya secara majazi.

Apa konsekuensi dari perbedaan ini? Para ulama sepakat bahwa seseorang yang mati disebabkan thaun dianggap mati syahid (akhirat). Berbeda dengan wabak seperti lepra dan kusta, maka penderitanya yang meninggal dunia tidak disebut syahid.
Didalam sahihaini disebutkan, Rasulullah bersabda :

الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ

“Penderita thaun yang meninggal adalah syahid (akhirat)”.

Bahkan thaun ini dianggap sebagai rahmat untuk kaum muslimin dan azab bagi kaum penentang Allah.

Konsekuensi lainnya adalah masuk dan keluar dari daerah yang terjangkit thaun adalah haram dan dosa. Sedangkan keluar dan masuk ke daerah yang terjadi wabak boleh menurut konsensus ulama.

Bahkan Imam Ibnu Hajar al-Asqolani juga menuliskan, ada pendapat sebagian ulama mutakhirin mazhab syafii yang berpendapat tidak adanya qunut nazilah ketika turunnya wabah thaun. Karena dia merupakan rahmat bagi orang mukmin. Namun beliau menegaskan pendapat terkuat dalam mazhab syafii adalah tetap dianjurkan qunut karena termasuk dalam kategori nazilah (نازلة) ; bencana atau musibah.

Namun kesamaannya bisa kita lihat dari sisi bahwa kedua duanya merupakan penyakit menular dan musibah dari Allah.

Dengan paparan diatas, penulis berpendapat bahwa virus corona atau populer dengan sebutan COVID-19 bukan termasuk thaun, tetapi wabah umum. Dengan konsekuensi penderita corona yang meninggal tidak dianggap syahid (akhirat). Dan masuk atau keluar daerah yang terjangkit corona tidaklah haram.

2. Mengikuti himbauan pemerintah apakah wajib??

Pemerintah dan kedokteran telah mengambil kebijakan dan menyampaikan himbauan serta langkah-langkah yang cepat dan aggresif yang harus diambil guna meminimalisir wabah ini. Diantaranya lockdown, social distancing, karantina dan juga isolasi.

Para ulamapun memainkan peran mereka, berfatwa kepada umat untuk kemaslahatan bersama. Menyampaikan bahwa “jiwa” manusia adalah diatas segalanya. Sehingga segala hal yang mengancam keselamatan jiwa harus dihindari. Bahkan sekalipun itu berkaitan dengan ibadah. Diantaranya fatwa diperbolehkan untuk tidak salat Jumat dan jamaah di Masjid. Khusus lokasi yang telah masuk kedalam kategori amergency maka haram bagi mereka untuk menyelisihi fatwa tersebut.

Wajibnya kita mentaati himbauan pemerintah adalah diantara hal yang disepakati di dalam islam. Haram hukumnya menentang pemerintah dan menyelisihi kebijakan mereka. Selama kebijakan itu tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu bakar as-Suyuti menyebutkan dalam “al-Asybâh wa an-Nadzâir” suatu kaidah :

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyat harus berdasarkan kemaslahatan”.

Beliau memaparkan bahwa Imam Syafii telah mencatat hal ini, beliau menyatakan :

مَنْزِلَةَ الْإِمَامِ مِنْ الرَّعِيَّةِ مَنْزِلَة الْوَلِيِّ مِنْ الْيَتِيمِ

“Kedudukan pemerintah terhadap rakyat seperti kedudukan wali terhadap anak yatim”.

Begitu juga dengan masyarakat, mereka wajib mentaati seluruh arahan dan himbauan pemerintah. Agar kemaslahatan bisa sama-sama diwujudkan demi masyarakat yang madani. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أطيعوا اللَّهَ وأطيعوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.

Sehingganya, selama himbauan dan kebijakan pemerintah tidak untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita wajib mentaatinya.

Imam Syihabuddin Al-Qalyubi bahkan terang-terangan menyampaikan bahwa pemerintah memiliki hak untuk melarang pengidap sakit menular untuk mengikuti kegiatan yang bercampur dengan orang-orang banyak, juga salat jumat dan jamaah, di dalam Hasyiyah beliau terhadap Kanzu ar-Râghibîn imam Nawawi beliau sebutkan :

وبرص وجذام) يندب للإمام منع صاحبهما من المسجد ومخالطة الناس والجمعة والجماعات )

“Adapun terkait pengidap kusta dan lepra, pemerintah dianjurkan untuk mencegah keduanya untuk hadir di masjid, kontak langsung dengan orang lain (apalagi keramaian), ibadah jumat, dan shalat jamaah,”

Mazhab hanafi malah menjadikan izin dari pemerintah sebagai barometer sahnya jumat (syarat sah jumat). Sehingga, seandainya pemerintah melarang, lalu salat jumat masih tetap dilaksanakan maka konsekuensinya salat tidak sah dan wajib diulang jika pemerintah mengizinkan, seandainya tidak diizinkan, mereka hanya wajib melaksanakan salat zuhur.

COVID-19 adalah wabah yang berskala internasional. Di berbagai literatur fikih, terutama mazhab syafii disebutkan bahwa penyakit wabah yang menular seperti lepra dan kusta dapat menjadi salah satu penyebab untuk membatalkan pernikahan. Bahkan imam Bukhari dalam al-Jami’ beliau membuat bab khusus tentang penyakit menular ini (باب الجذام ), beliau memaparkan hadist-hadist yang yang melarang kita untuk mendekati pengidapnya, diantaranya :

فر من المجذوم كما تفر من الأسد

“Larilah (menghindarilah) dari pengidap lepra sebagaimana engkau lari dari singa”

Dan juga hadist :

. لا توردوا الممرض على المصح

“Janganlah kalian mancapur adukan antara orang sakit dan orang sehat”

Dengan memperhatikan perkembangan pandemi COVID-19 ini yang begitu masif dan kuat. Maka sudah selayaknya pemerintah untuk menyampaikan maklumat untuk lockdown, bahkan bila perlu juga perlu mendorong social distancing atau jaga jarak antarindividu sebagai salah satu bentuk pencegahan penyebaran virus paling efektif dan aktual.

Rekomendasi dari kami, elok juga sekiranya pemerintah menyediakan alat pendeteksi virus corona ini dan mendistribusikan di tengah masyarakat agar lebih memudahkan untuk mengetahui siapa saja yang telah terjangkiti sehingga akan mudah dan membantu untuk diadakan tindakan isolasi maupun karantina. Dan memurahkan biaya masker serta menggalakkan anjuran mencuci tangan dan hand sanitizer, mungkin melalui tampilan-tampilan visual serta gambar-gambar. Semoga bermanfaat.

%d bloggers like this: